Minggu, 06 Januari 2013

MAKALAH PENGARUH BUDAYA TERHADAP KEMAMPUAN MENEJERIAL



KATA PENGANTAR


            Dengan mengucapkan puji serta syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berkat Rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pengaruh Budaya Terhadap Kemampuan Manajerial”. Makalah ini di buat berdasarkan tugas dari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
            Saya mengucapkan terima kasih kepada teman serta sumber-sumber yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Saya ucapkan terima kasih juga kepada Bapak dosen Ilmu Budaya Dasar, yaitu Heri Suprapto karena telah memberikan saya kesempatan untuk membuat makalah ini.
            Karena keterbatasan waktu, tenaga dan kemampuan, saya menyadari makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan para pembaca dapat memaklumi setiap kekurangan dalam makalah ini, dan semoga tidak menjadi halangan bagi para pembaca untuk memahami arti, maksud, dan tujuan yang ingin kami sampaikan
            Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih serta hormat atas segala bimbingan, pengarahan, dan yang telah memberikan bantuannya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terima kasih, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan juga kita semua.




Depok,   November 2012




Penulis

i

DAFTAR ISI


Kata Pengantar  i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN  1
1.1  Latar Belakang  1
1.2  Rumusan Masalah  2
1.3  Tujuan  2
BAB II PEMBAHASAN  3
2.1 Kinerja Menejerial 3
2.2 Budaya Organisasi 4
2.3 Defenisi Budaya Organisasi 5
2.4 Dimensi Budaya Organisasi  6
2.5 Pengertian Wewenang Organisasi 10
2.6 Delegasi Wewenag11
2.7 Wewenag Lini, Staf dan Star Fungsional11
BAB III PENUTUP 14
          3.1 Kesimpulan 14
          3.2 Saran 15
DAFTAR PUSTAKA16



ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
            Kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam mengelolah perusahaan dan penyusunan laporan keuangan sebagai informasi yang disampaikan kepada pihak internal dan ekternal merupakan salah satu kunci kesuksesan sebuah perusahaan,  adanya manajer yang berhasil dalam mendesain proses bisnis yang efisien dan mampu membuat keputusan-keputusan yang memberi nilai tambah bagi perusahaannya
Peran manajer dalam organisasi sangat menentukan efektivitas organisasi. Efektif di sini artinya manajer menjalankan pekerjaan yang benar, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik. Untuk mencapai efektivitas organisasi, kegiatan atau fungsi manajer mengarah pada perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian.
            Kotter dan Hesket (1997) mengatakan peranan manajer sangat penting. Mereka mengatakan bahwa ketika anggota organisasi merasa tidak perlu ada perubahan, maka seorang manajer dengan visi yang jelas dan gaya komunikasi yang baik dapat menciptakan kebutuhan akan perubahan untuk kemajuan perusahaan. Barney (dalam Javidan 1998) menyebutkan salah satu sumber daya organisasi adalah budaya dan reputasi.
            Secara konseptual bagaimana budaya organisasi dapat mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi adalah karena adanya kesamaan persepsi. Persepsi ini didasarkan pada dugaan bahwa cara beradaptasi dan menyesuaikan diri individu dengan lingkungan kerjanya kan lebih baik bila nilai-nilai yang terdapat dalam organisasi sesuai harapan setiap invidu




1
            Informasi laba merupakan perhatian utama untuk menaksir kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Selain itu informasi laba juga membantu pemilik atau pihak lain dalam menaksir earnings power perusahaan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, manajemen mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan yang dapat membuat laporan keuangan menjadi baik
Budaya organisasi mempengaruhi sejumlah keluaran seperti kinerja suatu organisasi. Kotter dan Hesket (1997) menemukan bahwa perusahaan dengan budaya yang mementingkan pelanggan, pemegang saham dan karyawan berkinerja lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut.
            Mengingat pentingnya kinerja manajerial dalam mencapai tujuan organisasi dan terbatasnya penelitian mengenai pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja manajerial, maka saya membuat makalah ini.
1.2 RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja manajer ?
  2. Dimensi apa saja yang ada dalam budaya organisasi ?
3.      Bagaimana pengertian dari wewenang organisasi?
4.      Bagaimana delegasi wewenang organisasi?
5.      Bagaimana struktur lini, staf, dan fungsional dan wewenangnya?
1.3 TUJUAN
  1. Untuk memberikan informasi mengenai masalah wewenang organisasi, staf, struktur lini, fungsional dan wewenangnya serta delegasi wewenang organisasi.
  2.  Untuk menambah wawasan khususnya yang berkaitan dengan budaya organisasi.
  3. Untuk mengetahui sejauh mana peran budaya organisasi dapat meningkatkan kinerja manajer.
  4. Untuk mengetahui bagaimana cara organisasi dalam mengelola budaya organisasi agar tujuan perusahaan tercapai.
2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KINERJA MANAJERIAL
            Manajer bekerja melalui orang lain, istilah “orang” di sini bukan saja bawahan dan supervisor, tetapi juga manajer lain dalam organisasi yang bersangkutan. Pengertian “orang” juga mencakup individu-individu di luar organisasi, seperti: pelanggan, pemasok, dan sebagainya. Orang-orang ini dan yang lainnya menyediakan barang dan jasa bagi organisasi atau menggunakan produk atau jasa yang di hasilkan organisasi. Dengan demikian para manajer bekerja dengan siapa saja pada setiap tingkat baik didalam maupun di luar organisasi yang dapat membantunya dalam mencapai tujuan organisasi.
            Ukuran kemampuan manajerial adalah memberikan nilai efisiensi untuk masing-masing perusahaan berdasarkan faktor input dan output perusahaan.  Penyusunan laporan keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi kepada para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan investasi yang akan dilakukan. Laporan keuangan  lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil adalah accrual oleh karena itu proses penyusunan laporan keuangan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu yang dapat menentukan kualitas laporan keuangan.
            Informasi laba merupakan perhatian utama untuk menaksir kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Selain itu informasi laba juga membantu pemilik atau pihak lain dalam menaksir earnings power perusahaan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, manajemen mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan yang dapat membuat laporan keuangan menjadi baik
            Tujuan para manajer dalam setiap organisasi ialah menciptakan perilaku yang dikoordinasikan sehingga organisasi tersebut dinilai efektif oleh mereka yang mengevaluasi hasilnya.
3
Untuk mencapai efektivitas organisasi, fungsi manajer diarahkan pada kegiatan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian. Perencanaan memungkinkan manajer menetapkan prosedur terbaik untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Pengorganisasian merupakan kegiatan merancang dan mengembangkan organisasi agar dapat menjalankan apa yang telah direncanakan.
            Seberapa jauh sebuah organisasi mencapai tujuan, tergantung pada kinerja manajer dalam organisasi tersebut, artinya bagaimana dia menjalankan kegiatan atau fungsinya. Namun untuk mencapai kinerja yang baik kemampuan seorang manajer semata-mata tidaklah cukup. Diperlukan sumber daya organisasi yang lain agar kinerja seorang manajer menjadi baik yang pada giliranya akan mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Bahwa kinerja manajerial dipengaruhi oleh sumber daya organisasi termasuk juga pengaruh budaya organisasi. Seorang manajer lebih tahu akan bisnis yang mereka dan mereka mampu untuk beroperasi secara efisien dan juga semakin kecil kemungkian memiliki  akrual salah.
Manajer adalah pelaku yang menyusun atau membuat laporan keuangan sehingga kualitas laba tergantung dari siapa yang membuatnya,  hal ini menarik untuk dilakukan guna menjawab pertanyaan  apakah semakin cakap/pandai/yang memiliki kemampuan seorang manajer akan berarti manajer tersebut  dalam penyusunan  laporan keuangan yang disajikan lebih baik  (labanya berkualitas) ataukah sebaliknya.


2.2 BUDAYA ORGANISASI
            Budaya (culture) telah didefinisikan dengan berbagai cara dan sedikit kesepakatan mengenai definisi yang tepat (Pratt dan Beaulieu, 1992). Budaya merupakan sekumpulan nilai-nilai, kepercayaan dan norma yang dirasakan bersama (Umiker, 1999). Budaya selalu merupakan suatu perwujudan bersama, karena budaya setidak-tidaknya dirasakan sebagian orang yang hidup atau tinggal pada lingkungan social yang sama, dimana budaya dipelajari, yang membedakanya dengan orang di luar lingkunganya (Hofstede, 1997).
            Manifestasi budaya dibagi dalam empat kategori (Hofstede 1990;1997) yaitu, symbols, heroes, rituals, dan value. Symbols adalah kata-kata, isyarat, gambar, atau benda yang membawa arti khusus dalam budaya.
4
Heroes adalah orang-orang baik yang hidup atau telah meninggal, nyata atau imajiner, mempunyai karakteristik yang bernilai tinggi dalam budaya dan sekaligus diperlakukan sebagai panutan dalam berperilaku. Rituals adalah kegiatan bersama yang secara teknis berebih-lebihan namun secara sosial penting dalam budaya. Symbols, heroes dan rituals digolongkan dalam istilah practices, karena ketiganya kelihatan oleh pengamat atau pihak luar meskipun arti budayanya terletak acara anggota mempersepsikanya. Inti dari budaya dibentuk oleh values. Values adalah perasaan yang memiliki sisi positif dan negatif, yang terdiri dari baik dan jahat, cantik dan buruk, normal dan abnormal, paradox dan logis rasional dan irasional .

2.3 DEFINISI BUDAYA ORGANISASI
            Budaya organisasi adalah nilai-nilai yang dirasakan bersama oleh anggota organisasi (sub unit organisasi) yang diwujudkan dalam bentuk sikap perilaku dalam organisasi (Pratt dan Beaulieu, 1992.Schein (1992) mendefinisikan budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar (digali, ditemukan atau dibangun suatu kelompok sebagai pembelajaran untuk menanggulangi masalah-masalah yang berkaitan dengan adaptasi). Integrasi Internal dan Integrasi Eksternal yang telah bekerja dengan baik untuk dianggap bernilai, oleh karena itu diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yag benar untuk mempersepsikan, memikirkan dan merasakanya dalam hubunganya dengan masalah tersebut.

Kotter dan Hesket (1997) mengatakan bahwa budaya organisasi mempunyai dua tingkatan yang berbeda dilihat dari sisi kejelasan dan ketahanan mereka terhadap perubahan. Pada tingkatan yang lebih dan kurang dalam terlihat, budaya merujuk pada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok-kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu meskipun anggota kelompok telah berubah melalui uraian di atas, terlihat walaupun terdapat berbagai definisi budaya organisasi namun terlihat terdapat pengakuan akan pentingnya norma bersama dan nilai-nilai yang membimbing perilaku anggota organisasi.
           
Budaya organisasi memiliki beberapa karekteristik (Luthan, 1998) seperti dibawah ini:
a.      Observed behavioral regulities, ketika anggota organisasi berinteraksi dengan yang lainnya, mereka menggunakan bahasa yang umum, terminology dan ritual yang berhubungan dengan rasa
5
     hormat dan cara bertindak.
b.      Norms, pedoman perilaku termasuk petunjuk bagaimana pekerjaan dilakukan.
c.      Dominant values, terdapat nilai-nilai utama yang dianjurkan organisasi dan diharapkan dirasakan bersama para anggota. Misalnya kualitas produk, tingkat kehadiran (low absenteeism) dan efisiensi.
d.      Phisolopy, terdapat kebijakan yang mengatur keyakinan organisasi tentang bagaimana pegawai atau pelanggan diperlakukan.
e.      Rules, terdapat petunjuk ketat/teliti yang berhubungan dengan kelangsungan keanggotaan organisasi.
f.        Organizational climate, ini merupakan keseluruhan perasaan yang dibawa dengan kesiapan jasmani, cara anggota organisasi berinteraksi dan berperilaku diantara mereka dan dengan pelanggan atau pihak luar lainnya.

2.4 DIMENSI BUDAYA ORGANISASI
Dimensi budaya organisasi terbukti mempengaruhi kinerja organisasi sehingga diduga mempengaruhi kinerja manajerial juga. Budaya organisasi meresap dalam kehidupan organisasi dan selanjutnya mempengaruhi setiap aspek kehidupan organisasi (Saffold, 1988). Jadi, budaya organisasi sangat berpengaruh besar pada aspek-aspek fundamental dari kinerja organisasi (Gardner, 1999).

Jika budaya organisasi merupakan aspek penting dalam meningkatkan kinerja maka budaya organisasi harus dikelola dengan baik. Untuk dapat mengelola dengan baik diperlukan pengertian yang jelas dan perhatian terhadap budaya organisasi.
            Menurut Denison (2000) untuk menggunakan budaya organisasi sebagai kunci pengungkit perubahan organisasi dalam meningkatkan kinerja terdapat tiga pendekatan
1.      Membuat manajer sadar akan bukti-bukti yang menghubungkan budaya dan kinerja
2.      Membantu mereka mengerti pengaruh yang kuat, baik positif maupun negatife dari budaya
3.      Mendiskusikan budaya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti manajer dan cepat dihubungkan dengan perilaku mereka sendiri.
6
Denison (1990-2000) mengembangkan model budaya organisasi yang berakar pada penelitian tentang bagaimana budaya mempengaruhi kinerja organisasi, dan di fokuskan pada sifat-sifat budaya yang mempunyai pengaruh kunci pada kinerja bisnis. Model budaya organisasi tersebut didasarkan pada empat sifat budaya yaitu: involvement (keterlibatan), consistency (konsistensi), adaptability (adaptabilitas), dan mission (misi).  Keempat dimensi budaya organisasi ini telah terbukti mempengaruhi kinerja organisasi sehingga diduga mempengaruhi kinerja manajerial juga.
           
Berikut ini diuraikan empat dimensi budaya organisasi menurut Denison:

KETERLIBATAN

Organisasi yang efektif memberdayakan orang-orangnya, membangun organisasi dalam tim, dan mengembangkan kemampuan sumber daya manusia (SDM)  pada semua level. Anggota-anggota organisasi mempunyai komitmen terhadap pekerjaannya dan merasa mempunyai sedikit andil dalam organisasi. Semua tingkatan merasa bahwa mereka sedikitnya mempunyai input terhadap keputusan-keputusan yang berakibat pada pekerjaanya dan merasa pekerjaanya berhubungan langsung dengan tujuan organisasi. Indicator keterlibatan adalah pemberdayaan, orientasi tim, dan pengembangan kemampuan.
            Keterlibatan dalam hubungan antara budaya dan efektivitas bukanlah hal baru karena telah banyak literatur perilaku organisasi yang membahasnya.Gagasan pokoknya adalah efektivitas organisasi merupakan fungsi dari tingkat keterlibatan dan partisipasi para anggota organisasi. Konsep ini mengemukakan bahwa tingkat keterlibatan dan partisipasi yang tinggi menciptakan kesadaran akan kepemilikan (sense of ownership) dan tanggung jawab.
Dimensi keterlibatan yang membuat nilai-nilai orientasi tim, meningkatkan pemberdayaan anggota dan pengembangan kemampuan telah terbukti berpengaruh terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan termasuk juga kinerja para manajer tentunya. Budaya organisasi yang membuat dimensi keterlibatan memampukan manajer melaksanakan tugasnya dengan baik.

7
            Hipotesis: Terdapat pengaruhpositif yang signifikan antara dimensi keterlibatan dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial.

KOSISTENSI

Indikator konsistensi adalah nilai-nilai inti, kesepakatan, koordinasi, dan integrasi.Dalam konteks organisasi koordinasi dan integrasi antar unit atau divisi sering merupakan hal yang sulit untuk dilaksanakan. Masing-masing unit sering merasa tidak peduli dengan yang lain dalam arti lebih mementingkan kebutuhan unitnya masing-masing tanpa memperhatikan kepentingan organisasi secara keseluruhan.
Penelitian menunjukan efektivitas organisasi terjadi karena organisasi tersebut konsistensi dan terintegrasi secara baik. Sikap perilaku seseorang berakar pada sekumpulan nilai-nilai inti bersama, para pemimpin, dan anggota dilatih pada pencapaian kesepakatan (walaupun mereka mempunyai perbedaan sudut pandang). Organisasi dengan sifat-sifat seperti ini mempunyai budaya yang khusus dan kuat yang secara signifikan mempengaruhi sikap perilaku anggota pada kemampuan mereka dalam mencapai kesepakatan dan melakukan tindakan-tindakan terkoordinasi.
             
            Hipotesis: Terdapat pengaruh postif yang signifikan antara dimensi konsistensi dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial.

ADAPTABILITAS

Organisasi yang telah terinterasi dengan baik sering sangat sulit untuk dirubah. Beradaptasi digerakkan oleh pelangganya, mengambil resiko dan belajar dari kesalahanya, dan mempunyai kemampuan serta pengalaman untuk menciptakan perubahan.Mereka terus-menerus meningkatkan kemampuan organisasi untuk memberikan nilai yang berharga bagi pelangganya.
Organisasi yang memiliki ciri tersebut dikatakan sebagai organisasi yang memiliki adaptabilitas karena indikator adaptabilitas adalah kemampuan menciptakan perubahan, fokus

8
pada pelanggan, kemampuan organisasi untuk belajar.Budaya yang dapat membantu organisasi mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, akan diasosiasikan dengan kinerja yang superior dalam periode waktu yang panjang.
Budaya yang demikian disebut budaya adatif yang membantu perusahaan beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah dengan memungkinkanya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru. Para anggota percaya bahwa mereka dapat menata secara efektif masalah baru dan peluang yang mereka temui serta siap menanggung resiko.

            Budaya yang tidak adaptif biasanya sangat birokratis. Orang-orangnya reaktif, menolak resiko dan sangat tidak kreatif. Budaya, baik adaptif maupun tidak adaptif sangat mempengaruhi manajer dalam melaksanakan tugas-tugas manajerial. Ternyata masalah kunci organisasi terletak pada ketidakmampuan organisasi melakukan adaptasi.
            Dalam budaya adaptif manajer sangat peduli pada pelanggan, pemegang saham dan karyawan. Mereka sangat menghormati orang dan proses yang dapat menciptakan perubahan yang bermanfaat bahkan memprakarsai perubahan bila dibutuhkan walaupun menuntut pengambilan resiko.
            Hipotesis: terdapat pengaruh positif yang signifikan antara dimensi adaptabilitas dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial.

            MISI

Misi adalah sifat budaya yang paling penting bagi organisasi yang berhasil mempunyai arah dan tujuan yang jelas, didefinisikan dalam tujuan organisasi dan sasaran strategis dan tercermin dalam visi tentang akan bagaimana organisasi dimasa depan. Jika visi menggambarkan aspirasi organisasi dan akan menjadi seperti apa, maka misi menggambarkan organisasi dalam melakukan usaha, melayani pelanggan dan keahlian yang perlu dikembangkan untuk mencapai visi organisasi. Indikator misi adalah arah dan intensi strategis, tujuan dan sasaran, visi.
           


9
Perusahaan yang dapat hidup dan berkembang adalah perusahaan yang memiliki misi yang memuat hubungan yang seimbang antara para stakeholder dari perusahaan:
1.      Investor dan stockholder
2.      Pemasok/supplier
3.      Pemasok/supplier
4.      Masyarakat dan Pemerintah
5.      Pelanggan
            Adanya tujuan dan sasaran organisasi yang berasal dari misi memberi arah pada manajer dalam membuat strategi yang tepat untuk mencapainya. Langkah yang dilakukan seorang manajer dapat berupa mengkomunikasikan tujuan dan sasaran organisasi, menciptakan perasaan bersama akan tugas yang harus dikerjakan untuk mencapainya. Apabila komunikasi telah berhasil dengan baik, maka anggota organisasi mempunyai kejelasan arah dan tujuan. Ada bukti yang meyakinkan bahwa kesuksesan kemungkinan besar terjadi ketika indvidu mempunyai tujuan terarah.
            Hipotesis: Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara dimensi misi dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial

            Dimana dimensi-dimensi budaya organisasi yaitu keterlibatan, konsistensi, adaptabilitas dan misi merupakan variabel independen, sedangkan kinerja manajerial merupakan variabel independen.
2.5 PENGERTIAN WEWENANG ORGANISASI
Wewenang (Authority) merupakan syaraf yang berfungsi sebagai penggerak dari pada kegiatan-kegiatan. Wewenang yang bersifat informal, untuk mendapatkan kerjasama yang baik dengan bawahan. Disamping itu wewenang juga tergantung pada kemampuan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan. Wewenang berfungsi untuk menjalankan kegiatan yang ada dalam organisasi. Wewenang dapat diartikan sebagai hak untuk memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tujuan dapat tercapai. Pengorganisasian (Organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan
10
organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya dan lingkungan yang melingkupinya.
2.6 DELEGASI WEWENANG
Delegasi wewenang adalah proses dimana para manajer mengalokasikan wewenang ke bawah kepada orang-orang yang melapor kepadanya.
Empat kegiatan terjadi ketika delegasi dilakukan:
1.      Pendelegasi menetapkan dan memberikan tujuan dan tugas kepada bawahan.
2.      Pendelegasi melimpahkan wewenang yang di perlukan untuk mencapai tujuan atau tugas.
3.      Penerimaan delegasi, baik implisit atau eksplisit, menimbulkan kewajiban atau tanggung jawab.
4.      Pendelegasi menerima pertanggungjawaban bawahan untuk hasil-hasil yang dicapai.

2.7 WEWENANG LINI, STAF DAN STAF FUNGSIAONAL
Wewenang lini, adalah wewenang dimana atasan melakukannya atas bawahannya langsung. Yaitu atasan langsung memberi wewenang kepada bawahannya, wujudnya dalam wewenang perintah dan tercermin sebagai rantai perintah yang diturunkan ke bawahan melalui tingkatan organisasi.
Wewenang staf, adalah hak yang dipunyai oleh satuan-satuan staf atau para spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi, atau konsultasi kepada personalia ini. Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh orang yang duduk sebagai taf yaitu dengan menganalisa melalui metode kuisioner, metode observasi, metode wawancara atau dengan menggabungkan ketiganya.




11

Baishline mengajukan enam pokok kualifikasi yang harus dipengaruhi oleh seorang staf yaitu :
1. Pengetahuan yang luas tempat diamana dia bekerja
2. Punya sifat kesetiaan tenaga yang besar, kesehatan yang baik, inisiatif, pertimbangan yang  
    baik dan kepandaian yang ramah.
3. Punya semangat kerja sama yang ramah
4. Kestabilan emosi dan tingkat laku yang sopan.
5. Kesederhanaan
6. Kemauan baik dan optimis
Kualifikasi utama yaitu memiliki keahlian pada bidangnya dan punya loyalitas yang tinggi. Konsekkuensi organisasi yang menggunakan staf yaitu menambah biaya administrasi struktur orgasisasi menjadi komplek dan kekuasaan, tanggung jawab serta akuntabilitas. yaitu memiliki keahlian pada bidangnya dan punya loyalitas yang tinggi. Wewenang staf  yaitu hak para staf atau spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi konsultasi pada personalia yang tinggi,
Hal yang perlu diperintahkan dalam mendelegasikan suatu kegiatan kepada orang yang ditujuk yaitu:
·         Menetapkan dan memberikan tujuan serta kegiatan yang akan dilakukan
·         Melimpahkan sebagian wewenangnya kepada orang yang di tunjuk
·         Orang yang ditunjuk mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan agar tercapainya tujuan
·         Menerima hasil pertanggung jawaban bawahan atas kegiatan yang dilimpahkan

12
Wewenang staf fungsional adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staf dengan satuan-satuan lini. Chester Bamard mengatakan bahwa seseorang bersedia menerima komunikasi yang bersifat kewenangan bila memenuhi:
v  Memahami komunikasi tersebut
v  tidak menyimpang dari tujuan organisasi
v  tidak bertentangan dengan kepeningan pribadi
v  Mampu secara mental dan fisik untuk mengikutinya
Agar wewenang yang dimiliki seseorang dapat di taati oleh bawahan maka diperlukan adannya:
              Kekuasaan ( power ) yaitu kemampuan untuk melakukan hak tersebut, dengan cara mempengaruhi individu, kelompok, keputusan. Menurut jenisnya kekuasaan dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Kekuasaan posisi ( position power ) yang didapat dari wewenang formal, besarnya ini tergantung pada besarnya pendelegasian orang yang menduduki posisi tersebut.
2.      Kekuasaan pribadi ( personal power ) berasal dari para pengikut dan didasarkan pada seberapa besar para pengikut mengagumi, respek dan merasa terikat pada pimpinan.







13
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
                  
Manajer adalah pelaku yang menyusun atau membuat laporan keuangan sehingga kualitas laba tergantung dari siapa yang membuatnya,  hal ini menarik untuk dilakukan guna menjawab pertanyaan  apakah semakin cakap/pandai/yang memiliki kemampuan seorang manajer akan berarti manajer tersebut  dalam penyusunan  laporan keuangan yang disajikan lebih baik  (labanya berkualitas) ataukah sebaliknya.
Peran manajer dalam organisasi sangat menentukan efektivitas organisasi.Efektif di sini artinya manajer menjalankan pekerjaan yang benar, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik. Untuk mencapai efektivitas organisasi, kegiatan atau fungsi manajer mengarah pada perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian. Organisasi mencapai tujuan tergantung pada kinerja manajernya, artinya bagaimana ia menjalankan kegiatan atau fungsinya.
Kemampuan manajerial sangat di pengaruhi oleh budaya organisasi. Dengan berpedoman pada budaya organisasi, para manajer akan dapat mengatur suatu organisasi dengan baik. Manajer bekerja dengan siapa saja pada setiap tingkat baik didalam maupun di luar organisasi yang dapat membantunya dalam mencapai tujuan organisasi.Tujuan para manajer dalam setiap organisasi ialah menciptakan perilaku yang dikoordinasikan sehingga organisasi     
           Budaya organisasi adalah nilai-nilai yang dirasakan bersama oleh anggota organisasi (sub unit organisasi) yang diwujudkan dalam bentuk sikap perilaku dalam organisasi (Pratt dan Beaulieu, 1992.Schein (1992) mendefinisikan budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar (digali, ditemukan atau dibangun suatu kelompok sebagai pembelajaran untuk menanggulangi masalah-masalah yang berkaitan dengan adaptasi).


14
3.2   SARAN
Jadi Peran manajer dalam organisasi sangat berpengaruh pada efektivitas organisasi. Efektif di sini artinya manajer menjalankan pekerjaan yang benar dan baik, sehingga tujuan kita dapat tercapai dengan baik.

Perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian sangat berpengaruh pada fungsi menejer. Dan kita harus memahami pengaruh budaya terhadap kemampuan menejerial dengan baik dan benar agar kita bisa lebih memahaminya.






















15
DAFTAR PUSTAKA




















16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar